Belajar Atau Sekadar Mengejar Nilai? Potret Problem Dasar Pendidikan Kita
DOI:
https://doi.org/10.54543/fusion.v6i04.521Keywords:
motivasi belajar, budaya nilai, pembelajaran mendalamAbstract
Artikel ini bertujuan menganalisis problem dasar pendidikan Indonesia yang kerap menempatkan nilai sebagai tujuan akhir, bukan sebagai indikator antara dalam proses belajar. Kajian ini menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan kualitatif-kritis terhadap literatur ilmiah, dokumen kebijakan, dan laporan lembaga internasional yang terbit terutama dalam rentang 2019–2026. Analisis difokuskan pada relasi antara budaya penilaian, motivasi belajar, kesejahteraan peserta didik, serta kualitas pembelajaran mendalam. Hasil kajian menunjukkan bahwa orientasi pendidikan yang terlalu berpusat pada angka cenderung mempersempit makna belajar menjadi aktivitas performatif: siswa belajar untuk lulus, bukan untuk paham; guru mengajar untuk mengejar target, bukan untuk menumbuhkan nalar. Di sisi lain, berbagai studi mutakhir menunjukkan bahwa asesmen yang menekankan umpan balik, otonomi belajar, dan relevansi pengalaman belajar lebih berkorelasi dengan motivasi intrinsik, keterlibatan, dan ketahanan akademik peserta didik. Dalam konteks Indonesia, agenda transformasi seperti asesmen formatif dan pembelajaran berpusat pada murid membuka ruang koreksi, tetapi implementasinya masih sering tersandera oleh budaya ranking, tekanan administratif, dan kebiasaan memaknai keberhasilan secara sempit. Artikel ini menegaskan bahwa problem pendidikan kita bukan semata rendahnya capaian, melainkan kekeliruan dalam mendefinisikan apa yang layak dicapai. Pendidikan yang sehat semestinya tidak hanya menghasilkan siswa yang pandai menjawab soal, tetapi juga manusia yang paham mengapa ia belajar, bagaimana ia berpikir, dan untuk apa pengetahuan itu dipakai. (OECD, 2023; UNESCO et al., 2025; Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2024).





