Rapor Digital, Karakter Manual: Ironi Pendidikan Karakter Di Era Teknologi
DOI:
https://doi.org/10.54543/fusion.v6i06.523Keywords:
pendidikan karakter, digitalisasi pendidikan, e-rapor, compliance behaviorAbstract
Pendidikan karakter di Indonesia telah memasuki babak baru: laporan perkembangan siswa kini terdigitalisasi, platform e-rapor diimplementasikan secara masif, dan indikator karakter diinput dalam sistem berbasis data. Namun di balik kemajuan administratif itu, pertanyaan yang lebih mendasar justru semakin mendesak, apakah digitalisasi pelaporan karakter benar-benar mencerminkan pembentukan karakter, ataukah sekadar memindahkan formalitas dari kertas ke layar? Artikel ini mengajukan argumen bahwa terdapat ironi struktural dalam kebijakan pendidikan karakter kontemporer: semakin canggih sistem pencatatan, semakin tipis perhatian terhadap proses pembentukan nilai yang sesungguhnya. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi literatur dan analisis kebijakan, penelitian ini mengkaji kesenjangan antara orientasi teknokratis dalam implementasi pendidikan karakter dan substansi pembentukan karakter yang bersifat relasional, kontekstual, serta tidak terukur secara algoritmik. Temuan menunjukkan bahwa digitalisasi rapor karakter cenderung mereduksi proses moral yang kompleks menjadi skor dan kategori, sehingga mendorong guru dan sekolah pada perilaku pemenuhan administratif (compliance behavior) daripada internalisasi nilai. Artikel ini berargumen bahwa reformasi pendidikan karakter yang bermakna tidak dimulai dari sistem pelaporan, melainkan dari rekonstruksi relasi pedagogis antara guru, siswa, dan nilai-nilai yang hendak ditanamkan. Implikasi kebijakan yang dihasilkan mengarah pada perlunya evaluasi kritis terhadap desain sistem e-rapor karakter agar tidak menjadi mesin dokumentasi yang steril dari makna.





