Pendidikan Kritis di Era Algoritma: Membentuk Kemampuan Berpikir Kritis Siswa dalam Menghadapi Informasi Digital
DOI:
https://doi.org/10.54543/fusion.v6i09.548Keywords:
berpikir kritis, literasi digital, algoritmaAbstract
Setiap kali siswa membuka layar, ada mesin tak terlihat yang lebih dulu memutuskan apa yang layak mereka lihat. Mesin itu bernama algoritma, dan ia tidak bekerja untuk mencerdaskan, melainkan untuk mempertahankan perhatian selama mungkin. Artikel ini mengkaji secara kritis bagaimana pendidikan dapat membentuk kemampuan berpikir kritis siswa di tengah lanskap informasi digital yang dikurasi oleh algoritma platform, bukan oleh kebutuhan belajar. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka (library research) dan analisis isi terhadap literatur ilmiah nasional dan internasional yang terbit dalam rentang 2018–2026 mengenai literasi digital, filter bubble, echo chamber, dan pedagogi kritis. Hasil kajian menunjukkan bahwa personalisasi algoritmik menciptakan gelembung informasi yang secara sistematis mempersempit keragaman perspektif yang diterima siswa, sementara kurikulum sekolah pada umumnya masih memperlakukan literasi digital sebagai keterampilan teknis mengoperasikan aplikasi, bukan sebagai kesadaran kritis terhadap cara kerja algoritma itu sendiri. Kesenjangan inilah yang membuat siswa rentan terhadap disinformasi, polarisasi opini, dan bias konfirmasi tanpa pernah menyadarinya sebagai masalah. Kajian ini menyimpulkan bahwa pendidikan berpikir kritis di era algoritma tidak cukup diajarkan sebagai mata pelajaran tambahan, melainkan harus diintegrasikan sebagai kompetensi lintas kurikulum yang melatih siswa membongkar, mempertanyakan, dan menavigasi arsitektur informasi yang membentuk cara mereka berpikir setiap hari.





