Nilai Bagus, Otak Tumpul? Kritik Terhadap Orientasi Angka Dalam Pendidikan
DOI:
https://doi.org/10.54543/fusion.v6i05.522Keywords:
orientasi angka, penilaian pendidikan, deep learningAbstract
Sistem pendidikan di Indonesia, dan juga secara global, selama ini terlalu akrab dengan satu ritual yang tampaknya tak pernah digugat: pengejaran angka. Nilai rapor yang tinggi, indeks prestasi yang gemilang, dan peringkat kelas yang membanggakan seolah menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan. Namun pertanyaan yang lebih dalam jarang diajukan, apakah angka-angka itu benar-benar mencerminkan kecerdasan, karakter, dan kapasitas berpikir seorang manusia? Penelitian ini mengkaji secara kritis orientasi angka dalam pendidikan dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi kepustakaan (library research). Tujuannya adalah menganalisis dampak psikologis, epistemologis, dan sosial dari dominasi penilaian berbasis angka terhadap kualitas proses belajar dan pengembangan kompetensi holistik peserta didik. Hasil kajian menunjukkan bahwa orientasi angka yang berlebihan melahirkan tiga patologi utama: pertama, surface learning—belajar hanya untuk ujian; kedua, erosi motivasi intrinsik; dan ketiga, pengabaian terhadap kecerdasan multidimensional. Penelitian ini berargumen bahwa transformasi paradigma penilaian dari measurement-centered menuju learning-centered bukan sekadar wacana reformasi pendidikan, melainkan kebutuhan mendesak demi menyelamatkan esensi berpikir dalam dunia pendidikan.





